Reporter : Ast | Editor : Dewangga
TANJUNG SELOR – Perayaan Hari Ulang Tahun Kabupaten Bulungan ke-65 dan Tanjung Selor ke-235 menjadi sangat istimewa tahun ini. Untuk pertama kalinya, festival budaya Birau Bulungan dipusatkan di lokasi Kebun Raya Bundayati, menciptakan suasana yang berbeda. Acara ini menampilkan beragam kegiatan seni dan budaya yang menarik, mulai dari musik tradisional hingga tarian kontemporer.
Festival ini menampilkan berbagai perlombaan budaya, seperti lomba musik daerah untuk para pelajar. Selain itu, ada juga lomba tari pesisir dan pedalaman, serta lomba busana wastra yang terbuka untuk umum. Semua kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan dan memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luas.
Para peserta juga dapat mengikuti festival makanan tradisional yang menampilkan kuliner khas dari 74 desa di Bulungan. Ada juga lomba mewarnai untuk anak-anak PAUD, serta acara spesial “difabel show” untuk menunjukkan bakat dan kreativitas mereka. Lomba menyumpit dan lomba gasing juga diselenggarakan untuk menambah keseruan festival ini.
Pawai budaya menjadi puncak acara yang diikuti oleh empat kategori peserta, yaitu pelajar/mahasiswa, organisasi masyarakat, perusahaan, dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Meskipun tidak ada pawai kendaraan, para peserta akan berjalan kaki dari Jalan Ahmad Yani menuju Tugu Cinta Damai, melintasi rute yang telah ditentukan.
“Tahun ini kami tidak mengadakan pawai kendaraan,” ujar Bupati Bulungan Syarwani, menekankan bahwa pawai budaya tahun ini hanya dilakukan dengan berjalan kaki. “Jalur pawai pun tidak terlalu jauh karena hanya akan berjalan kaki,” lanjutnya, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil untuk menciptakan pengalaman yang lebih intim.
Bupati Syarwani juga menjelaskan bahwa peringatan hari jadi ini baru pertama kali dipusatkan di Kebun Raya Bundayati. “Ini kali pertama, semua kegiatan kami pusatkan di satu titik,” katanya. Beliau juga menambahkan, “Ada tema inklusi (melibatkan semua orang dari berbagai latar belakang) yang melibatkan anak-anak difabel.”
“Tema Birau tahun 2025 adalah ‘Bulungan Berdaulat, Unggul, dan Berkelanjutan’,” ujar Bupati Syarwani. Beliau menambahkan bahwa ada juga tarian masal yang disajikan untuk menghibur para pengunjung yang hadir. “Tarian itu merupakan kolaborasi dari berbagai budaya,” jelasnya, merujuk pada tarian Dayak, Tidung, dan Bulungan.
“Semua desa wajib mengikuti upacara puncak Birau,” tegas Bupati Syarwani, mendorong partisipasi aktif seluruh masyarakat. Beliau menambahkan, “Sekolah dan paguyuban juga wajib hadir dengan mengenakan pakaian adat nusantara.” Bupati juga menyatakan, “Jumlah stan yang disiapkan untuk UMKM sekitar 130.”
Selain berbagai perlombaan, festival ini juga menampilkan stand-stand inovasi dari 74 desa di Bulungan. Kehadiran stand-stand ini memberikan kesempatan bagi desa-desa untuk memamerkan produk dan kreativitas mereka. Stan-stan ini tidak hanya menampilkan produk UMKM, tetapi juga inovasi dari setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Acara puncak Birau Bulungan seharusnya jatuh pada hari Minggu, 12 Oktober 2025. Namun, demi menghormati umat Nasrani, upacara puncak dimundurkan ke hari Senin, 13 Oktober 2025. Penundaan ini menunjukkan sikap toleransi dan saling menghormati antarumat beragama di Kabupaten Bulungan.
Festival Sungai Kayan juga menambah kemeriahan dan kesakralan perayaan tahunan ini. Festival ini menampilkan balap perahu panjang serta prosesi biduk bebandung, kegiatan yang sangat dinanti oleh masyarakat. Acara ini diselenggarakan dari tanggal 6 hingga 8 Oktober, memeriahkan suasana sebelum acara puncak Birau.
Sebagai bagian dari acara puncak, disajikan pula tarian massal yang melibatkan 400 penari dari berbagai kalangan, termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN) dan PPPK. Gerakan koreografi dari tarian kolaborasi ini akan membentuk angka 65 dan 235, sebagai simbol usia Kabupaten Bulungan dan Kota Tanjung Selor.






