Bernostalgia Era 80-an, Disbudporapar Nunukan Ajak Generasi Muda Lestarikan Tradisi Bedug Sahur

oleh

NUNUKAN – Suara bedug dan tabuhan alat musik sederhana kembali mengguncang jalanan Kabupaten Nunukan. Pemerintah daerah melalui Disbudporapar menggelar Lomba Bedug Sahur sebagai upaya menghidupkan kembali tradisi lama yang sarat akan nilai kebersamaan, Sabtu (14/03/2026) malam.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Nunukan, H. Sura’i, S.Sos., M.A.P., menegaskan bahwa pihaknya sengaja menginisiasi lomba ini untuk mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda. Menurutnya, masyarakat terdahulu memiliki cara unik dan mandiri untuk membangunkan warga saat sahur sebelum teknologi listrik mendominasi.

“Kami mengajak generasi muda melestarikan budaya daerah melalui lomba ini. Dulu, saat belum ada listrik seperti sekarang, anak-anak turun ke jalan menabuh bedug dan alat sederhana untuk mengingatkan warga waktu sahur,” ungkap Sura’i.

Sura’i bahkan mengenang kembali masa mudanya di Nunukan pada era 1980-an yang kental dengan tradisi serupa. Ia menilai kegiatan ini sangat bermakna karena menyambung kembali rantai budaya lokal yang mulai tergerus zaman.

“Saya sendiri pada tahun 80-an di Nunukan selalu membangunkan sahur bersama teman-teman. Jadi, tujuan utama kita adalah melestarikan budaya yang sejak dahulu sudah masyarakat lakukan,” ujarnya.

Tak sekadar menabuh, Sura’i juga memuji kreativitas para peserta yang memanfaatkan barang-barang di sekitar mereka. Para pemuda tidak hanya mengandalkan bedug konvensional, tetapi juga mengolah drum bekas hingga botol menjadi instrumen musik yang harmonis.

“Peserta menggunakan alat tradisional bahkan barang bekas seperti drum dan botol. Kami ingin mereka mengingat masa lalu sekaligus belajar berkreasi memanfaatkan lingkungan, jadi tidak semata-mata bergantung pada teknologi modern,” jelas Sura’i.

Bagi Disbudporapar, kompetisi ini menjadi sarana pendidikan karakter agar generasi Z dan milenial tetap menghargai warisan tradisi ketimuran. Sura’i berharap masyarakat terus menjaga dan mewariskan semangat ini kepada generasi berikutnya.

Baca Juga:  BPBD Nunukan Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di Desa Tukulon, Lumbis Ogong

“Harapan kami, masyarakat benar-benar menjaga dan melestarikan tradisi ini. Kita harus menyampaikan nilai-nilai positif budaya Melayu dan adat setempat kepada anak cucu agar mereka senantiasa mencintai jati diri daerahnya,” pungkasnya.