TNKM Bersama Masyarakat Adat Tekan Karhutla

oleh

NUNUKAN – Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), khususnya di wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) tidak hanya mengandalkan patroli rutin petugas.
Balai TNKM secara aktif merangkul masyarakat adat dan warga desa penyangga sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian hutan.

Dengan luas sekira 1.271.665 hektare TNKM menjadi kawasan konservasi penting di Kaltara. Kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati, meliputi 96 jenis mamalia dan 200 jenis aves, serta berbagai macam flora dan fauna yang hidup dalam ekosistem hutan pegunungan.

Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito menegaskan masyarakat adat merupakan elemen vital yang tidak bisa dipisahkan dari upaya konservasi lingkungan.
“Masyarakat adat merupakan mitra kunci dalam menjaga kelestarian TNKM karena telah hidup berdampingan dengan hutan dari dahulu secara turun-temurun,” kata Seno, Senin (14/9/2026).

Berikut adalah alasan utama mengapa partisipasi masyarakat adat menjadi strategi paling efektif dalam mencegah karhutla di kawasan TNKM:

Penerapan Kearifan Lokal (Sekat Bakar Alami):
Masyarakat adat di Krayan telah memiliki kearifan lokal serta aturan adat dalam mengelola aktivitas perladangan.

Saat membuka lahan, warga terbiasa membuat sekat bakar alami untuk memastikan penggunaan api saat berladang tetap terkendali dan tidak merembet ke kawasan hutan konservasi.

Deteksi Dini dan Respons Cepat:

Sebagai pihak yang bermukim paling dekat dengan garis batas hutan, warga desa penyangga menjadi mata dan telinga utama di lapangan.
“Masyarakat yang berada paling dekat dengan lokasi biasanya menjadi pihak pertama yang mengetahui adanya asap atau api,” ujar Seno.

Balai TNKM telah membentuk kelompok Masyarakat Mitra Polhut (MMP) di sejumlah titik strategis. Wadah ini menyinergikan warga lokal agar terlibat aktif dalam aksi perlindungan kawasan, pelaporan titik api, hingga edukasi sesama warga.

Baca Juga:  Rekam Keinginan Publik, Litbang PWI Lakukan Survei Pra Pilkada

Teknolgi Sipongi+ dan Prinsip Utamakan Pencegahan
Selain mengandalkan peran warga, Balai TNKM mendukung pemantauan kawasan secara digital menggunakan aplikasi Sipongi+ milik Kementerian Kehutanan. Setiap kali indikasi titik api terdeteksi oleh satelit, petugas posko tingkat resort bersama warga akan langsung bergerak melakukan pemeriksaan lapangan (groundcheck).

Seno menggarisbawahi bahwa karakter wilayah Krayan menuntut pendekatan preventif ketimbang responsif.
“Untuk Krayan, pencegahan jauh lebih penting daripada menunggu kebakaran menjadi besar baru dilakukan pemadaman,” tegasnya.
TNKM di wilayah Krayan merupakan kawasan yang berbatasan langsung dengan daratan Malaysia, luasnya 272.930 hektare.

Melalui komitmen bersama antara petugas, masyarakat adat, dan pemerintah desa, kelestarian TNKM diharapkan tetap terjaga demi melindungi habitat satwa langka sekaligus menopang sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya.